Penulis : Marlynda Happy Nurmalita Sari, S.ST., Bdn., MKM
Prodi Kebidanan Blora Program D3 Poltekkes Kemenkes Semarang
Menjadi Dosen
Tips agar Dosen Bidan tetap memiliki motivasi
yang menyala, bekerja dengan produktif, namun tubuh dan pikiran mereka tetap
sehat.
1. Menyalakan
Kembali Motivasi Intrinsik (The Power of Why)
Fondasi utama untuk bertahan di tengah tekanan bukanlah stimulasi
eksternal, melainkan motivasi dari dalam diri (motivasi instrinsik). Dosen
kebidanan perlu menyadari bahwa bahwa profesi mereka bukan sekadar rutinitas administratif.
Setiap lembar modul yang diajarkan dan setiap riset klinis yang dipublikasikan
berdampak langsung pada kualitas pelayanan kesehatan serta penurunan Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia. Menjadikan
pekerjaan sebagai ladang ibadah dan kontribusi sosial terbukti menjadi jangkar
psikologis terkuat dan efektif dalam mencegah stres kerja.
2. Seni
Manajemen Waktu: Integrasi Tridharma
Salah satu strategi terbaik untuk mendongkrak
produktivitas tanpa menambah beban waktu adalah menerapkan metode integrasi
tugas. Dosen bidan yang cerdas tidak melakukan pengajaran, penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat di jalur yang terpisah yang saling berebut waktu.
Sebagai contoh praktis: Angkatlah kasus klinis unik saat
mendampingi mahasiswa di lahan praktik menjadi sebuah topik penelitian.
Selanjutnya, hilirkan hasil penelitian tersebut sebagai materi edukasi atau
penyuluhan saat melakukan pengabdian masyarakat di desa binaan. Dengan konsep
"sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampau" ini, tiga kewajiban
akademik dapat tuntas dalam satu waktu. Melalui konsep “sekali mendayung, tiga
kewajiban terlampui”, efisiensi waktu dapat dilakukan.
3. Time
Blocking dan Skala Prioritas Eisenhower
Teknik pembagian waktu (time blocking) jauh lebih
produktif dibandingkan melakukan banyak tugas sekaligus (multitasking). Kebiasaan
melakukan banyak tugas sekaligus (multitasking) justru menurunkan fokus
dan memicu kelelahan otak lebih cepat. Dosen disarankan membagi jadwal harian
ke dalam blok waktu (time blocking) yang sakral dan fokus. Urutkan tugas
menggunakan matriks prioritas: selesaikan yang penting dan mendesak terlebih
dahulu, lalu delegasikan tugas tambahan yang bisa dikerjakan bersama tim dosen
atau mahasiswa tingkat akhir.
Dosen disarankan membagi jadwal mingguan ke dalam blok waktu yang sakral dan tidak boleh diganggu gugat. Misalnya, pukul 08.00–11.00 murni dikhususkan untuk kegiatan mengajar dan bimbingan mahasiswa. Selanjutnya, pukul 13.00–15.00 dialokasikan khusus untuk menulis draf artikel ilmiah atau menganalisis data riset tanpa intervensi notifikasi ponsel. Guna menyaring tugas tambahan yang masuk, gunakan Matriks Eisenhower untuk memilah prioritas:
§ Segera kerjakan tugas yang penting dan mendesak (seperti pelaporan BKD atau pengisian SISTER).
§ Jadwalkan tugas penting yang tidak mendesak (seperti persiapan hibah penelitian berikutnya).
§ Delegasikan tugas tambahan non-akademis yang bisa dikerjakan bersama tim sejawat atau melibatkan mahasiswa tingkat akhir guna melatih kemampuan organisasi mereka.
4. Menjaga
Kesehatan sebagai Aset Utama
Produktivitas setinggi apa pun tidak ada artinya apabila Dosen tersebut tumbang dan jatuh sakit. Dosen kebidanan harus jeli mengenali sinyal alarm dari tubuh mereka sendiri.
Aspek work-life balance bukanlah mitos, melainkan
kebutuhan biologis sangat penting bagi Dosen Bidan.
Mengonsumsi makanan bergizi, menyempatkan olahraga ringan (stretching) di sela jadwal padat, dan memastikan kecukupan hidrasi adalah langkah preventif dasar. Memiliki regulasi emosi yang baik dan berani berkata "tidak" secara santun pada tugas tambahan yang berada di luar kapasitas rasional merupakan bentuk profesionalisme sejati demi mempertahankan kualitas kinerja yang sudah ada
Kesimpulan
Beban kerja yang dipikul
oleh Dosen Kebidanan memang nyata, berlapis, dan menantang. Namun, dengan
perpaduan motivasi yang kokoh, manajemen waktu yang terstruktur melalui
integrasi Tridharma, serta kesadaran penuh untuk menjaga kesehatan fisik dan
mental maka para Dosen Bidan akan mampu berdiri tegak. Mereka tidak hanya akan
bertahan di tengah tuntutan dunia akademis, tetapi juga menjelma menjadi
pendidik yang bahagia, sehat, dan produktif dalam melahirkan bidan-bidan
kompeten pengawal masa depan bangsa. (me)










0 Komentar