IKLAN

Iklan Banner

Petani Tebu Resah, Minimnya Truk Pengangkut Panen Tebu Blora

55 unit Truk KDMP telah diserahterimakan kepada para Pengurus oleh Bupati Blora disaksikan Komandan Kodim 0721/Blora

"Petani tebu Blora kembali resah, setelah penutupan PG GMM Bulog, yang mengancam kebangkrutan finansial petani, karena tidak terserap, masalah baru timbul, kelangkaan kendaraan pengangkut dari lahan menuju Pabrik - pabrik gula yang dituju,"

Sunoto, Ketua APTRI Blora saat memimpin aksi demo penghentian giling PG GMM Bulog

Keresahan Petani Tebu
BLORA, ME - Belum usai penderitaan petani tebu Blora, akibat penutupan Pabrik Gula Gendhis Multi Manis Bulog (GMM Bulog), kini masalah baru muncul, ribuan hektar panen tebu petani Blora juga terancam gagal, akibat tidak adanya kendaraan pengangkut dari lahan menuju pabrik atau tempat pengepul yang disebut pok - pokan.

Selain itu, minimnya tenaga pemanen tebu juga membuat biaya operasional panen menjadi naik drastis per hektarnya. Meski hal ini bisa disikapi oleh Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora, dengan mendatangkan teknologi mesin pemotong/pemanen tebu dari Perusahaan penyewaan Alat Sistem Pertanian (Alsintan).

"Saat ini kami sudah mendatangkan alsintan pemanen tebu, semacam combi lah kalau di padi,  bekerja sama dengan perusahaan rental alsintan Maxi, sehingga bisa mempercepat proses panen, dan lebih hemat pembiayaan bila dibandingkan tenaga manual, 60% lebih murah dan lebih cepat," ujar Sunoto, Ketua APTRI Blora kepada Monitor Ekonomi.

Minim Truk Pengangkut
Meski sudah ada solusi penggunaan mesin kombi tebu, masalah ternyata tidak berhenti di situ, minimnya kendaraan truk pengangkut dari lahan panenan menuju lokasi pengepul tebu, ternyata juga menjadi kendala bagi petani di seluruh wilayah Kabupaten Blora. Kondisi ini terjadi karena, berbarengan dengan panen komoditas jagung di Blora.

Menurut Sunoto, jumlah lahan yang panen tebu, saat ini serentak mencapai puluhan ribu hektar, akibat penutupan PG GMM Bulog, semua tebu petani Blora dikirim keluar Blora, ada yang di Trangkil, Pati, Jawa Tengah yang terdekat dan Lamongan, Jawa Timur, bisa dipastikan over kapasitas untuk kebutuhan truk pengangkutnya.

"Masalah kita sekarang adalah minimnya truk pengangkut dari lahan panen tebu menuju tempat pengepul atau langsung ke pabrik di Trangkil Pati atau di KTM Lamongan, ini juga masalah yang krusial, butuh bantuan solusi Pemerintah untuk persoalan pengangkut tebu kami," ujarnya.

Bisa Kerjasama KDMP
Di sisi lain, Pemerintah Pusat sudah mengirimkan dan menyerahkan sekitar 55 unit truk untuk 55 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang saat ini, belum banyak digunakan atau dioperasionalkan oleh para Pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dikarenakan memang ada kegiatan pengangkutan barang di Kopdes/Kopkel tersebut.

Melihat kondisi tersebut, Ketua APTRI Blora, Sunoto berinisiatif untuk kerjasama penyewaaan truk - truk tersebut, untuk mengangkut hasil tebu petani yang luasnya mencapai ribuan hektar itu, dengan menyampaikan surat permohonan sewa pinjam truk KDMP tersebut.

"Kami sudah menyampaikan surat permohonan untuk sewa pinjam truk - truk KDMP/KKMP demi menyelamatkan distribusi tebu hasil panen petani kami, ini sangat darurat dan krusial, kami membutuhkan kebijakan yang berani demi mendukung swasembada gula nasional, mohon para stakeholder bisa membantu kami," tandas Sunoto. (Rome)

Posting Komentar

0 Komentar