Pembuat Kasur Kapuk Terancam Gulung Tikar

Usaha Mikro Kecil Rumahan pembuatan kasur, bantal, guling dari bahan kapuk randu terancam gulung tikar, karena sepi pembeli dan modal habis akibat krisis akibat pandemik Covid 19 yang berkepanjangan. (Foto: guh)


Pandemi Covid 19

BLORA, ME - Pembuat kasur  dan bantal kapuk di Desa Tambaksari, Kecamatan Blora terancam gulung tikar akibat terdampak pandemi Covid-19. 

“Biasanya saya terima perbaikan kasur rata-rata sehari tiga. Itu untuk pengisian kapuk atau rehab, bongkar pasar kasur milik warga. Tetapi sejak ada virus corona, sangat sepi. Sebulan dua sampai tiga orang, jadi minim pendapatan,” kata Tiningsih (44) salah seorang pembuat kasur di Desa Tambaksari, Kecamatan Blora, Sabtu (19/9/2020). 

Pengrajin Kehabisan Modal

Jasa perbaikan kasur kapuk, kata dia, Rp. 100.000,00 per buah. Itu pun tergantung jenis kapuk yang diminta oleh pemilik, seperti kualitas kapuk randu. 

“Harga kapuk randu saja Rp. 25.000,00 per kilogram. Jadi mulai kehabisan modal untuk menghidupi keluarga,” kata dia. 

Sedangkan harga kasur dan bantal kapuk baru buatannya, menurut dia, tergantung ukuran dan kualitasnya. 

“Harganya sesuai kelasnya, A,B, dan C. Seperti kasur kapuk yang tidak bisa digulung harganya Rp1.500,000 per buah. Itu karena kapuk yang dibutuhkan cukup banyak,” terangnya. 

Tetapi untuk kasur kapuk gulung dijual antara Rp750.000,00 hingga Rp1.000.000,00 per buah. Demikian pula dengan harga bantal dan guling kapuk berkisar antara Rp. 100.000,00 hingga Rp. 200.000,00 per buah. 

“Hanya saja, selama pandemi Covid-19, saya sama sekali tidak membuat kasur kapuk. Kehabisan modal. Hanya melayani service atau bongkar pasang saja. Ini masih ada stok kapuk,” ungkapnya. 

Kasur Kapuk Sepi

Hal yang sama disampaikan oleh Jumani, suaminya. Penjualan kasur kapuk baru buatannya sepi peminat. 

“Untuk kasur baru, sebulan laku dua buah,” ucapnya. 

Dia dan beberapa keluarganya menjalankan usaha membuat kasur, bantal dan guling kapuk dilakukan secara turun temurun dari orang tuanya. 

“Usaha ini kami tekuni secara turun-temurun. Mulai tahun 1968 orang tua kami sudah membuka usaha ini. Sampai sekarang, saya dan sejumlah saudara menekuninya,” ungkapnya. (Guh/me)

Posting Komentar

0 Komentar