Membaca Peta Politik Dibayangi Pandemik

"Meski sudah tidak seketat saat awal pandemik, dua bulan pertama (April - Mei), dan ditandai dengan masuknya masa  tatanan normal baru, peta politik Pilkada mulai menghangat kembali, dengan munculnya pasangan baru Bakal Calon Peserta Pilkada Blora dari Keluarga Pendopo"

Isu Covid 19, sudah tidak lagi menjadi topik pembahasan yang menakutkan, alasannya kondisinya telah berubah, disebut "Blora Losdown" sindiran kondisi bebas, kebalikan dari kata "Lockdown".

Kini para politisi yang memiliki kepentingan dalam kontes Pilkada, yang tertunda, hingga 9 Desember 2020 kedepan, kembali memanaskan mesinnya. Gerbong yang sempat macet di tengah jalan, perlahan tapi pasti mulai bergerak.

Meskipun sempat malu - malu, kini muncul pasangan Bakal Calon Pilkada Blora, Dra. Hj. Umi Kulsum - Agus Sugianto, SE  meskipun belum resmi mendeklarasikan, siap melawan pasangan Arief Rohman, MSi dan Tri Yuli Setyowati, ST, MT, yang telah lama menjadi pasangan Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Blora, dari hasil surat rekomendasi DPP PDIP.

Hal itu terkonfirmasi dari maraknya pemasangan alat peraga kampanye, di beberapa wilayah di Kabupaten Blora. Hampir merata, gambar pasangan yang diusung dari Partai Nasdem, PPP dan Partai Gerindra, telah fix mengusung pasangan Dra. Hj. Umi Kulsum - Agus Sugianto, SE., menghiasi tepi jalan dari Kota, Kecamatan hingga Desa dan Kelurahan.

Maka sudah fix, terjadi "pecah kongsi" antara Bupati Blora, Djoko Nugroho, dengan Wakilnya Arief Rohman, MSi. Pasalnya Dra. Hj. Umi Kulsum adalah istri dari Bupati Blora dua periode (2011 - 2021) yang akrab dipanggil Pak Kokok itu. Dan situasi ini, cukup sulit untuk membaca peta politik dukungan diantara kedua pasangan tersebut, apalagi dibayangi oleh kondisi pandemik Covid 19 ini.

Meskipun sudah masuk dalam pra kondisi, normal baru ini, masyarakat masih cuek untuk berkecimpung di dalamnya. Bahkan situasi ekonomi yang memburuk terus menjadi tuntutan, kepada Pemerintah Kabupaten Blora, dalam hal ini Bupati Blora, sebagai pemimpin eksekutif tertinggi. Kebijakan yang tepat menjadi kunci utama, dalam menyelesaikan krisis multidimensi ini.

Kondisi sosial ekonomi yang resah, bisa menjadi ukuran besar kecilnya dukungan,  dan peta politik yang terus menghangat. Ditambah masifnya, gerakan ekstra parlemen dari para aktifis pemerhati kebijakan, turut memberi warna dan pengaruh, kepada siapa mereka akan menjatuhkan pilihannya nanti. (Rome)


Posting Komentar

0 Komentar