PENULIS : Murti
Ani, SST., Bdn.,M.Kes,
Dosen Prodi Kebidanan Blora Program D3 Poltekkes Kemenkes Semarang
Menyusui memiliki dampak mendasar pada kesehatan anak dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, serta memiliki dampak penting pada kesehatan perempuan. Salah satu manfaat pemberian ASI (Air Susu Ibu) adalah menghemat pengeluaran biaya keluarga dengan menurunkan biaya perawatan kesehatan. Rekomendasi pemberian ASI adalah dimulai dalam satu jam pertama setelah kelahiran, diberikan secara eksklusif selama enam bulan, dan dilanjutkan hingga dua tahun atau lebih dengan pemberian makanan pendamping yang aman dan sesuai.
Faktor yang mempengaruhi pemberian ASI pada ibu bekerja
Banyak wanita berhenti menyusui segera setelah mereka kembali bekerja karena kurangnya persiapan dan dukungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan pemberian ASI pada ibu bekerja meliputi jenis pekerjaan, beban kerja, kembali bekerja lebih awal, jam kerja, perilaku dan karakteristik ibu, dukungan dari pemberi kerja, fasilitas ruang menyusui, jarak dari tempat kerja ke ruang menyusui, waktu untuk memompa ASI, dukungan keluarga, kebijakan dan hukum yang melindungi ibu menyusui. Kondisi ibu bekerja menjadi hambatan dalam pemberian ASI karena peran mereka yang beragam. Selain mencari nafkah, mereka juga melakukan pekerjaan rumah tangga. Faktor lain, adalah ibu bekerja tidak dapat membawa anak-anak mereka ke tempat kerja karena jadwal kerja mereka tidak memungkinkan.
Dukungan tempat kerja
Penciptaan lingkungan kerja yang mendukung untuk menyusui dapat membantu ibu untuk terus menyusui. Bagi pemberi kerja, manfaat dari menyediakan lingkungan kerja yang kondusif untuk menyusui lebih besar daripada biayanya. Secara global, dukungan tempat kerja untuk menyusui semakin dipandang sebagai investasi yang hemat biaya untuk meningkatkan moral karyawan, meminimalkan ketidakhadiran, mempertahankan keterampilan kerja, dan mengurangi pergantian staf. Intervensi tempat kerja seperti menyediakan ruang laktasi dan istirahat menyusui merupakan strategi berbiaya rendah yang dapat meningkatkan durasi dan keberlanjutan menyusui. Pemberi kerja dapat mempertimbangkan untuk meningkatkan kebijakan cuti, khususnya yang berkaitan dengan menyusui. Kebijakan ketenagakerjaan tentang cuti melahirkan, termasuk pengambilan cuti melahirkan yang lebih panjang daripada sebelum melahirkan, cuti melahirkan berbayar, atau cuti ayah berpotensi mempengaruhi secara positif durasi pemberian ASI eksklusif.
Agar efektif, intervensi menyusui di tempat kerja perlu meningkatkan kesadaran akan intervensi yang tersedia di kalangan ibu bekerja serta lingkungan kerja mereka, mengubah budaya tempat kerja, mendorong dukungan manajer/supervisor dan rekan kerja. Strategi lingkungan untuk mendukung ibu menyusui dapat dilakukan dengan pekerjaan paruh waktu, pilihan penitipan anak seperti penitipan anak di tempat kerja, menyediakan ruang serta fasilitas yang memadai (ruang laktasi khusus), fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI di tempat kerja (tersedianya lemari es), memberikan waktu untuk menyusui atau memerah ASI selama jam kerja, waktu yang cukup dan istirahat menyusui, serta peraturan perundang-undangan nasional tentang dukungan menyusui di tempat kerja telah menghasilkan prevalensi yang lebih tinggi dan durasi menyusui yang lebih lama. Berdasarkan hasil studi, bahwa ibu yang memiliki akses mudah ke bayi mereka selama jam kerja, atau yang dapat memerah ASI di tempat kerja, menunjukkan hasil menyusui bayi mereka yang lebih lama daripada mereka yang tidak memiliki akses tersebut.
Dukungan keluarga
Dukungan keluarga terutama pasangan telah terbukti meningkatkan inisiasi dan durasi pemberian ASI. Bentuk dukungan yang dapat diberikan yaitu dukungan informasi, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan emosional. Dukungan informasi dilakukan dengan memberi saran bukan memerintah. Dukungan penghargaan adalah ekspresi positif dari rasa hormat kepada orang tersebut. Seorang suami memuji istrinya dan mengungkapkan kegembiraannya karena istrinya mampu menyusui anak-anak mereka.
Dukungan instrumental adalah bentuk dukungan yang diberikan oleh suami melalui bantuan materi, seperti uang, barang, makanan, dan jasa. Selain itu, dukungan instrumental juga diberikan melalui pekerjaan, seperti mebantu menggendong bayi saat menangis, membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, membantu mengganti popok, memberikan pijatan pada istri. Dukungan emosional adalah bentuk dukungan yang diberikan suami yang menawarkan kenyamanan, keamanan, dan kedamaian. Hal ini membantu menstabilkan emosi dan pengendalian diri, memberikan motivasi dan mendengarkan semua keluhan dan masalah yang dihadapi istri.
Strategi sukses memberikan ASI eksklusif bagi ibu bekerja
Menyusui bukan hambatan untuk tetap dapat bekerja sesuai profesional, dan sebaliknya meskipun bekerja bukan halangan untuk tidak memberikan ASI eksklusif. Upaya yang dilakukan adalah dengan mencari dukungan dari suami, pengasuh yang akan membantu, dan mencari dukungan dari rekan kerja dan atasan. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membuat komitmen, komitmen pada diri untuk tetap memberikan ASI dan bekerja profesional. Jika memungkinkan, mengambil cuti yang lebih panjang setelah melahirkan daripada sebelum melahirkan. Menyusui secara eksklusif dan sering selama cuti melahirkan. Lanjutkan untuk menyusui di malam hari, di pagi hari, dan kapan pun saat ibu berada di rumah. Sebelum kembali bekerja, lakukan simulasi, lakukan kegiatan di luar rumah di jam yang sama saat kembali bekerja. Waktu yang terbatas di tempat kerja, dapat dimanfaatkan untuk dapat memerah ASI atau menyusui jika bayi dibawa ke tempat kerja. Ketika ibu di tempat kerja perah ASI 2-3 kali setiap hari kerja (sekitar per 3 jam).
Perah ASI sebelum ibu pergi bekerja, dan berikan kepada pengasuh untuk diberikan kepada bayi. Pemberian ASI perah dengan sendok, tidak menggunakan botol agar bayi tidak bingung puting. ASI perah yang beku dapat diberikan dengan dicairkan secara bertahap di dalam chiller (kulkas bawah) 12-24 jam, lalu merendam botol yang berisi ASI perah ke dalam wadah berisi air hangat, hingga siap diminum bayi. Jangan menggunakan microwafe atau merebus ASI perah, karena dapat merusak kandungan protein dan zat gizi pada ASI. Susuilah bayi setelah ibu memerah ASI. Memerah ASI dapat dilakukan dengan tangan, atau dengan pompa elektrik. Ibu dapat belajar untuk memerah ASI segera setelah bayi lahir. Kuncinya adalah latihan, semakin sering dilakukan maka akan semakin mahir. ASI eksklusif adalah hak bayi, maka sudah sepatutnya untuk kita memberikan hak tersebut. ASI hebat, ASI tak tergantikan.










0 Komentar