KORAN DAN MAJALAH


Oleh : Santoso BS

Santoso Budi Susetyo
Suatu ketika saya bertanya kepada loper yang mengantar koran ke rumah, tentang berapa jumlah pelanggannya, jawabannya jauh di bawah dugaan saya. Dalam satu wilayah Kecamatan tempat saya tinggal, jumlah koran yang diantar tidak sampai empat puluh eksemplar, sedikit sekali.

Jumlah tersebut, mengkonfirmasi bahwa telah terjadi perubahan besar, dalam mengakses informasi. Media cetak termasuk koran diantaranya, tergerus dengan media online. Diawali dengan munculnya internet, kemudian berkembang beralih ke platform media sosial.

Konon, koran atau surat kabar adalah media massa yang paling tua umurnya, yakni bersamaan dengan ditemukan mesin cetak. Dalam sejarahnya terutama di Indonesia, banyak sekali media cetak bermunculan dengan berbagai variannya. Koran, Majalah dan Tabloid sempat bertaburan, mendominasi dalam penyampaian informasi dan berita. Rupanya, saat ini banyak koran, tabloid juga majalah, tidak bisa kita dapatkan lagi. Tidak mampu bertahan, akhirnya tumbang hilang dari peredaran.

Kebanyakan koran dan majalah yang masih terbit, dan punya pengemar, tinggal dari perusahaan media yang bonafide, sudah punya nama sejak lama, termasuk koran langganan saya ini.

Salah satu alasan, mengapa saya masih bertahan untuk mengkonsumsi informasi dan berita dari koran, terutama yang sudah ternama, karena percaya, media seperti ini mempunyai tingkat akurasi tinggi, dibanding dengan media online, karena banyak berita hoaks, yang nyatanya tidak mudah melacak dan membendungnya. 

Koran dan majalah, apalagi yang punya nama besar, bisa dikenali dengan jelas siapa pemilik dan pengelolanya. Rasanya mereka tidak akan mempertaruhkan reputasi, dengan menyampaikan berita tanpa data dan fakta akurat. Lain halnya dengan portal media online, yang tidak jelas pengelolanya. Demikian juga, media sosial menjadi rentan, karena setiap orang bisa menjadi wartawan. Bagi saya, media online yang relatif aman, adalah selain dari media besar dan ternama, adalah media online yang mencantumkan nama perusahaan dan pengelolanya, apalagi jika ditambah dengan alamat dan kontak person yang jelas. Karena dengan terbukanya jatidiri media, adalah bagian tanggungjawab kebenaran informasi yang disampaikan.

Setidaknya ada tiga koran yang bisa saya baca setiap harinya. Satu di rumah, dua lagi di kantor Partai. Di tengah godaan gadget membaca koran butuh niat dan motivasi yang kuat. Menggali informasi dengan membaca, selain tambah wawasan juga bisa menjaga budaya literasi. 

Koran yang biasanya dicetak dengan kertas tipis dan buram memungkinkan mudah dibawa ke mana saja. Enteng, mudah dan tidak sayang untuk dilipat. Jika tertinggal pun tidak masalah apalagi sudah terbaca.

Jika dihitung secara ekonomis, harga koran tidaklah mahal, dibanding dengan sajian berita yang ditampilkan ditambah banyak rubrik  untuk menambah wawasan juga hiburan. Mungkin tidak ada orang yang membaca seluruh informasi dari sebuah koran. Harga koran menjadi lebih murah lagi jika mau menjual koran bekasnya. Jarang yang menjadikan koleksi, karena isinya mayoritas berita aktual, akan menjadi berita basi jika sudah lewat hari atau masanya.

Jika koran atau media cetak lainnya, bukan pilihan dalam mendapatkan informasi. Hendaknya tetap hati-hati dalam memilih, serta memilah portal dan tulisan yang kita konsumsi, supaya berita hoaks tidak meracuni.

Alhamdulillah

(Penulis adalah Pengamat Sosial, Ekonomi dan Budaya, sekaligus Anggota DPRD PKS Blora, Ketua DPD PKS Blora) 

Posting Komentar

0 Komentar