Mlangsen Gelar Wayang Kulit Tradisi Suran


• Peringati 1 Suro
BLORA, ME - Kelurahan Mlangsen tetap lanjutkan tradisi peringati pergantian tahun baru Islam, atau yang dikenal 1 Syuro. Rangkaian itu telah dimulai pada malam sebelumnya, yaitu malam tirakatan di Balai Kelurahan Mlangsen, pada sabtu malam (31/8/2019), kemudian dilanjutkan pagelaran Seni Barongan Singo Lodra, Minggu siang (1/9/2019).

Barongan Singo Lodra tampil diawali di Balai Kelurahan Mlangsen, kemudian diarak keliling hingga finish di bekas Pasar Pitik, Koplakan, Blora, di lokasi tempat akan digelar pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk. Seni Barongan selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat Blora. Itu terbukti, ratusan penonton tak pernah beranjak untuk menyaksikan pertunjukan itu, selama kurang lebih 2 jam itu. Ditutup dengan prosesi kesurupan pemain barongannya, mampu mengupas kulit kelapa hanya dengan giginya. Dan tariannya yang tanpa sadar, namun tetap mengikuti alunan tabuhan barongan.

Pagelaran Wayang Kulit
Setelah barongan selesai, dilanjutkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon " Wahyu Katentreman" oleh Ki Dalang, Mulyana dari Tunjungan, Blora. Dalam sambutannya, Lurah Mlangsen, Syahari Purnomo, mengungkapkan upaya warganya untuk melestarikan budaya peringatan 1 Syuro, dengan menggelar seni dan budaya Jawa yang telah turun temurun.  

"Rangkaian kegiatan ini, sudah menjadi tradisi turun temurun di Kelurahan Mlangsen, dan ini mendapatkan dukungan dari semua warga dan berbagai pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Blora, untuk mensukseskan acara ini, tujuannya adalah satu, melestarikan budaya Jawa dan Islam bersama - sama, dan tak lupa kami ucapkan terima kasih atas berbagai pembangunan di wilayah kami, Kelurahan Mlangsen," ujarnya.

Hakekat 1 Muharram
Sementara itu, Camat Blora, Dasiran juga menyampaikan dalam sambutannya, terkait Peringatan 1 Muharram, sebagai kalender Islam, yaitu pergantian tahun baru Hijriah.

"Dalam sejarahnya mengapa di peringati 1 Syura dalam sejarah Islam, kurang lebih adanya perang pengaruh di jaman Kekhalifahan setelah wafatnya, Nabi Besar Muhammad SAW, terjadinya perebutan kekuasaan antara khalifah, yang mana menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit, dan membuat kedukaan yang mendalam, oleh karena itu, bulan Syuro itu diperingati sebagai bulan kedukaan, dan ini juga terjadi di masyarakat kita di Jawa Tengah khususnya, mengapa tidak ada yang melaksanakan hajatan apapun, entah itu perkawinan. Khitanan atau yang lainnya di bulan Syuro ini, adalah dalam rangka berduka." paparnya.

Usai sambutan, langsung diserahkan secara simbolis lakon wayang " Brotoseno " dari Camat kepada Ki Dalang Mulyana, untuk memulai pertunjukan wayang, dengan lakon " Wahyu Katentreman ", turut hadir dalam kegiatan tersebut, Danramil 0721/Blora, Kapten Inf. Darmanto, Prasetyo Nugroho, Anggota DPRD Propinsi Jateng terpilih, dan para tokoh masyarakat dan agama setempat, serta seluruh pecinta Seni Wayang Kulit Blora. (Rome)

Posting Komentar

0 Komentar