Pedagang Dalam Pasar Resah Berdirinya Lapak Luar

Pedagang mulai menata barang dan perlengkapannya.
Perpindahan pedagang lama
Blora-ME, Seperti yang diketahui, bahwa akhir januari ini telah tiba, dan para pedagang eks Pasat Induk Blora, Pasar Relban, dan Pasat Kaliwangan, harus segera pindah dan menempati kios dan meja lapaknya masing - masing sesuai dengan klasifikasinya di pasar lamanya. Sejak diresmikan oleh Bupati Blora, pada hari Sabtu (5/1/2019), dan diberikan waktu hingga akhir bulan ini (Januari.red). Membuat pedagang segera mempersiapkan diri, untuk menempati pasar yang baru, Pasar Rakyat " Sido Makmur " yang lokasinya berada di Jalan Mr. Iskandar Km. 2,5, di kawasan Gabus, Kelurahan Mlangsen, Blora Kota. Disaat yang sama Pemkab Blora pun bergerak cepat, bangunan dalam pasar lama segera dibersihkan, begitu telah ditinggalkan oleh pedagangnya.

Kerja lembur membuat rak, pembatas dan pintu lapak.
Siang malam penataan
Dalam pantauan media kesayangan anda, Monitor Ekonomi, animo para pedagang untuk pindah dan segera menata kiosnya, semakin meningkat. Siang malam pasar baru itu, tak pernah sepi dari para pekerja, dari tukang kayu, tukang batu dan tukang las. Mereka bekerja membuat rak pajangan, pintu, dan sekat bagian atas. Seperti yang diungkapkan Parjo, yang sedang menata lapaknya, saat Monitor Ekonomi memantau kegiatan malam di pasar baru Gabus. Lapak berukuran 2 x 2 itu, dipasangi pintu, dan pembatas dari kayu dan jaring kawat serta membuat rak untuk menata dagangannya, yaitu telur ayam.
" Ini buat istri saya, yang dulu juga berjualan di pasar induk Blora, jualan telur ayam, usaha ini sudah lama digelutinya," ungkapnya.

Resah pedagang dalam
Dibalik hiruk pikuk para pedagang menata kios dan lapaknya, rupanya juga merasa resah dengan adanya pembangunan lapak di luar bangunan pasar itu sendiri. Hal itu terungkap oleh salah seorang pedagang yang menempati kios bagian dalam di Blok A maupun Blok B.
" Kalau mereka bisa bikin lapak sendiri, dan jualannya sama dengan yang di dalam ini, jelas akan merugikan kami, karena rata-rata pembeli pengen praktisnya saja, beli di luar terus pulang, ini bisa mengancam kami yang berjualan di dalam, kami bisa rugi, modal kami ini sudah cukup besar, untuk kiosnya saja Kita nambah biaya lho," ungkapnya. Saat dikonfirmasi berapa biaya tambahan untuk mendapatkan kios tersebut, dia mengaku lebih dari Rp. 20 juta dia keluarkan, belum untuk penataan dan barang dagangannya.
" Kami minta pemerintah menghimbau mereka agar tidak berjualan yang jenisnya sama dengan kami, kalau dibiarkan masih kami akan sama seperti di pasar lama, sepi pembeli karena kalau dengan yang di luar (Pasar Relban), jangan sampai kita jadinya nganggur, dan ora sido makmur," tandasnya. (Rome)

Posting Komentar

0 Komentar