Sor Ondo Tinggal Kenangan?

Pasar Induk Blora yang tinggal menjadi kenangan
Pedagang pindahkan barang
Blora-ME, Hari - hari terakhir perpindahan pasar induk Blora yang berdiri sejak tahun 1973, mulai nampak kesibukannya. Para pedagang dengan kendaraan bak terbuka, untuk mengangkut barang - barangnya. Rak, meja kursi dan almari serta barang dagangan itu dibawa menuju tempat yang baru, Pasar Rakyat " Sido Makmur " di kawasan Gabus, Kelurahan Mlangsen, sekitar 2,5 kilometer arah selatan dari pasar lama. Sejak diresmikan oleh Bupati Blora, Djoko Nugroho, pada tanggal 5 Januari 2019, para pedagang diberikan waktu hingga akhir bulan ini.
" Ini sudah waktunya mas gak bisa diundur lagi, sebagian bangunan sudah dirobohkan, untuk dibangun pertokoan seperti rencana pemerintah," ungkap Parjo, sopir angkutan bak terbuka, yang bersama kru angkat angkut.

Pedagang gelar selamatan
Sementara itu, suasana ramai dan sibuk oleh pedagang yang hilir mudik, memindahkan dan menata barangnya, untuk berjualan esok harinya, meskipun belum ada pembeli yang datang, rata - rata pengunjung masih sebatas melihat - lihat. Malam hari pun tidak kalah sibuknya. Beberapa warung kopi dan angkringan laris diserbu warga dan pedagang, yang lembur menata kiosnya. Beberapa pekerja dari Biro Tehnik Listrik (BTL) masih sibuk menata jaringan listrik dari satu kios ke kios yang lain. Malam itu pasar baru Gabus benar - benar terang benderang. Selain kesibukan menata kios, pedagang juga menggelar selamatan nasi tumpeng, ayam bakar ingkung satu ekor utuh.
" Semoga pasar ini benar - benar mendatangkan berkah dan rejeki bagi para pedagangnya, semuanya berjalan lancar, ramai dan aman, ami" ucap Tokoh Agama setempat yang diminta untuk mendoakan acara selamatan tersebut.

Kontras pasar lama
Suasana kontras terjadi di pasar lama, di sisi utara, menjadi gelap , kios di dua lantai itu benar - benar telah tutup, karena sudah tidak ada lagi yang membuka kiosnya. Sementara bangunan dalamnya pun telah bersih dirobohkan oleh Pemerintah Kabupaten Blora, tinggal bangunan dua lantai yang membujur berbentuk letter L, yang tidak berapa lama lagi juga akan dirobohkan, oleh dinas terkait yaitu pada Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Blora. Selasar pasar yang biasanya digunakan untuk berjualan kaki lima pun sudah mulai jarang, kecuali warung kopi dan angkringan dengan penerangan seadanya. Hal itu juga terjadi di selasar sebelah timur, meskipun begitu, suasana masih agak ramai oleh para pedagang makanan dan pedagang CD musik, dari berbagai jenis musik, serta film - film. Pasar Induk Blora, sesaat lagi akan menjadi tinggal kenangan, dan akan hilang ditelan roda pembangunan kota Blora.

Kenangan Sor Ondo Cafe
Salah satu saksi liku - liku hidup manusia, yaitu warung jamu Mbok Rasinah, yang berada persis di depan pintu pasar paling selatan. Warung minum jamu yang telah puluhan tahun berdiri itu pun akhirnya juga harus ikut tutup. Warung yang terkenal dengan julukan Sor Ondo Cafe, karena berada bersis dibawah tangga pasar Induk Blora, adalah warung yang sangat fenomenal oleh warga Blora, terutama para pecinta " jamu lelaki ", karena pembelinya sebagian besar adalah laki - laki. Sekilas warung itu tidak jauh berbeda dengan warung kopi biasa. Ada kopi, teh, makanan kudapan yang terdiri dari, kacang asin, telur asin, nasi bungkus, ketela goreng, pisang goreng, ketan dan masih banyak lagi, yang khusus adalah menu minuman berakohol berbagai merk, dari pabrikan hingga fermentasi tradisional, semua ada. Pembelinya yang sebagian pria usia dewasa, datang silih berganti, menghabiskan bersloki - sloki minuman berbau meqnyengat itu, tak lupa rokok sigaret di tangan, ngobrol ngalor ngidul, kadang terdengar tawa, bila ada sesuatu yang lucu, kadang ada juga yang teriak - teriak sok jagoan, ada juga yang menangis sedih, akibat masalah yang menimpa. Bahkan tidak jarang terjadi perselisihan, hingga berujung di Kepolisian, kini semua tinggal kenangan, kenangan pahit manis getir kehidupan manusia. (Rome)

Posting Komentar

0 Komentar