NGOBROL EKONOMI KERAKYATAN BERSAMA DONI IMAM PRIAMBODO

Sarasehan pengembangan ekonomi desa bersama Doni Imam Priambodo
Sarasehan Ekonomi Kerakyatan
Blora-ME, Kehadiran anggota DPR Komisi XI yang membidangi Ekonomi, Keuangan dan Perbankan, Doni Imam Priambodo, cukup membuka wawasan bagi peserta yang mengikuti Sarasehan yang bertema " Menyelaraskan Kedaulatan Desa Melalui Kedaulatan Ekonomi Berbasis Enterpreneurship dan Sektor Riil " yang digagas oleh Jaringan Walisongo, pimpinan Ali Munandar, pada hari Minggu (13/1/2019 ) di D Joglo, Blora. Dalam sambutannya, Doni, politisi Partai Nasdem menyampaikan, pentingnya membangun ekonomi berbasis potensi yang ada di desa.

" Bidang pertanian dan peternakan misalnya, potensi ini sangat besar untuk dikembangkan menjadi industri agro yang sangat menguntungkan bagi petani, dan ini telah dilakukan di negara - negara maju, seperti Jepang, Swiss dan Jerman, padahal wilayah negara mereka kecil, namun dengan teknologi tanam padi pun dilakukan di atas atap gedung bertingkat, dan berhasil" paparnya.

Sinergitas Perbankan - Petani
Dalam tugasnya sebagai anggota DPR RI Komisi XI, yang bermitra dengan Perbankan dan bahkan bersama lintas komisi, Doni meminta agar masyarakat bisa memberikan masukan dan informasi kepadanya.

" Salah satu contohnya adalah pembinaan pada kelompok tani dan ternak di Desa Purworejo, Kecamatan Blora Kota, antara Bank Indonesia dengan kelompok tani dan ternak di sana, ini ada mas muklisin, Ketuanya, monggo disampaikan pengalamannya," ujarnya.
Muklisin pun maju menyampaikan pengalamannya saat didampingi oleh Doni Imam Priambodo, Politisi Nasdem, yang saat ini juga kembali bersaing dalam konstelasi Pemilu Serentak 2019.

" Kami jadi punya pengalaman dan ilmu tentang agroindustri, terima kasih kepada pak Doni Imam Priambodo yang telah mendampingi kami, sehingga bisa dibantu oleh Bank Indonesia, dan hasilnya kami bisa rasakan, ada bantuan dari Bank Indonesia," ungkapnya.

Pola pemasaran tradisional
Dalam sarasehan itu, Doni Imam Priambodo juga menyampaikan, kenapa petani dan peternak umumnya tidak bisa maju.

" Petani dan peternak masih tradisional polanya, jual hasil panennya masih mentah, dalam bentuk gabah kering panen, tidak ada nilai tambahnya, beda jika para petani mengubahnya menjadi beras dan dikemas, maka akan ada nilai tambahnya, termasuk sapi, sapi hanya dijual hidup, padahal sapi bisa laku, mulai dari daging, susu, kulit hingga tulangnya, sehingga memiliki nilai tambah yang besar," ujarnya kembali.
Disamping bisnis yang berpola tradisional, keterbatasan modal juga menjadi kendala. Bahkan lembaga keuangan, seperti Bank juga sulit diakses oleh para petani kita.

" Petani harus bersatu membentuk koperasi, kemudian membuat Perseroan Terbatas, sehingga bisa mengakses dana dari para investor, dalam bentuk reksadana, ini sedang kami bahas dan kami rumuskan bersama para investor, dan mereka sudah setuju, " ujarnya. (rome)

Posting Komentar

0 Komentar