Mereka Sendirian Hadapi Dampak Korona

Warung - warung kopi dan makan di Pusat Jajanan dan Oleh - Oleh Khas Blora di bekas Terminal Bus Blora yang sepi, sejak merebaknya wabah virus Corona, himbauan Pemerintah untuk melakukan social distancing, belajar dan kerja dirumah.

"Dampak Covid 19 rupanya tidak hanya di kesehatan tubuh saja, ekonomi dunia pun babak belur, termasuk di Indonesia dan Kabupaten Blora pada khususnya. Dibutuhkan tindakan yang cepat dan tepat, untuk mencegah usaha mikro kecil menengah, usaha warung kopi misalnya, yang rentan miskin bila usahanya bangkrut, akibat sepinya pengunjung imbas dari wabah virus Corona"

Warung Kecil Terancam
BLORA, ME - Sunarsih, warga Kelurahan Bangkle, Kecamatan Blora, hanya bisa melihat pelataran parkir yang sepi di Pusat Jajanan Blok T, sambil sesekali menepuk - nepuk lalat yang hinggap di lontong sayur dagangannya.

"Sudah dua Minggu ini sepi pengunjung mas, saya nggak tahu apa itu virus Corona itu, hari - hari biasa juga saya sepi, ini saya baru dua bulan jualan disini, paling hanya dapat Rp. 50 Ribu se hari, untuk kebutuhan hidup sehari - hari, suami juga sepi, nggak ada penumpang, hari ini belum ada satupun pembeli," ungkapnya ceritakan kondisi ekonomi keluarganya.

Pendapatan Turun 
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Dewi, yang berjualan kopi di lapak ujung paling selatan, di Pusat Jajanan Blok T, Kelurahan Tempelan, Blora Kota. Warga yang tinggal di sekitar Eks Stasiun Kereta Api, Kelurahan Kedung Jenar, Blora Kota.

"Sudah dua Minggu sejak adanya virus Corona, pembeli di warung kami sangat sepi, saya jualan dari jam 10 pagi hingga jam 10 malam, pendapatan kami turun drastis, biasanya dapat Rp. 400 - 500 ribu satu hari, sekarang dapatnya cuma Rp 200 Ribu, karena tidak ada pengunjung yang datang, kalau ada himbauan untuk tidak jualan, bagaimana kami bisa makan, siapa yang kasih kami uang belanja?" tanya ibu satu anak, yang mengaku single parent itu.

Bingung Bayar Angsuran
Sementara itu, Linda, warga Bangkle yang sudah 4 tahun membuka usaha warung kopi di bagian tengah, juga mengaku risau dengan kondisi sepinya pengunjung di warungnya, akibat wabah virus Corona itu.

Warung kopinya memperkerjakan 2 tenaga kerja perempuan, tetangganya sendiri, harus menghadapi kenyataan pendapatan turun drastis dari sebelumnya.

"Sama mas, kita juga sepi banget ini, gak ada yang beli, gara - gara Corona, bisa belanja dan bayar gaji karyawan saya saja sudah untung, kalau dulu bisa nabung sedikit, sekarang hanya habis untuk bisa bertahan jualan lagi, mau tutup kasihan karyawan saya, mereka nanti kerja apa, saya sendiri bingung, mau kerja apa, sedangkan masih punya tanggungan koperasi mingguan, kalo sepi begini, gak bisa ngangsur mas, semoga Pemerintah bisa mbantu kami ya," ujar ibu, yang juga mengaku single parent dengan satu anak kelas 1 SMA tersebut.

Butuh Solusi Pemerintah
Pencegahan virus Corona memang menjadi prioritas dari seluruh aparat Pemerintah, dari Pusat, Propinsi hingga Kabupaten termasuk Desa. Kondisi penurunan pendapatan yang drastis bagi para pelaku sektor ekonomi informal, harus segera mendapatkan solusi. Pekerja di sektor informal, juga paling terdampak dengan adanya upaya pencegahan penularan Covid 19 ini. Bagaimana, nasib para tukang parkir, tukang becak, ojek baik manual maupun online, buruh - buruh pabrik dan tenaga kasar lainnya, yang harus berhenti kerja, karena kebijakan social distancing, jika itu diberlakukan dengan masif.

"Yang pegawai enak punya bayaran mas, lha kami ini siapa yang bayar kalo gak ada yang beli di warung kami, kalo kami nggak jualan, trus siapa yang kasih makan kami?"  tandas Dewi, penjual warung kopi di bekas Terminal Bus Blora itu. (Rome)



Posting Komentar

0 Komentar