BUPATI : " PEMERINTAH GAK ADA NIAT MENYENGSARAKAN RAKYAT"

Bupati Blora, Djoko Nugroho menandatangani prasasti peresmian pasar rakyat  Sido Makmur 

Peresmian Pasar Sido Makmur
Blora-ME, Peresmian pasar baru di kawasan Gabus, Kelurahan Mlangsen dilaksanakan oleh Bupati Blora, Djoko Nugroho, pada hari Sabtu (5/1/2019). Dengan disaksikan oleh ratusan calon pedagang yang akan menempati kios, los maupun lapak yang telah tersedia. Hadir juga para pimpinan Lembaga Negara tingkat Kabupaten Blora, yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Blora. Termasuk Dandim 0721/Blora yang baru, Letkol. Arm. Ali Mahmudi dan Kapolres Blora, AKBP. Antonius Anang Tri Kuswindarto, SIK, MH. Serta para Pimpinan Lembaga Perbankan yang beroperasi di Blora. Bupati Blora, Djoko Nugroho merasa sangat bahagia dengan acara peresmian ini.
" Saya seneng karangan bungane akeh, hari jadi Blora ae gak ono, gak popo tak trimani, seng penting apik," ujarnya.


Ratusan pedagang pasar lama bersiap menempati pasar baru di Gabus.
Total untuk 1942 pedagang
Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Blora, Maskur, dalam pidato laporannya dihadapan Bupati dan seluruh pedagang pasar induk Blora, Relban dan Kaliwangan, calon pengguna pasar yang baru itu, yang kebanyakan adalah ibu - ibu.
" Pasar Rakyat dibangun diatas lahan 4,5 hektar, dengan biaya total Rp. 52,7 Milyar, yang seluruhnya berasal dari APBD murni Kabupaten Blora, dimulai dari tahun 2016 pengurugan tanah, tahun berikutnya 2017, pembangunan blok A dan B, serta pagar keliling, tahun ketiga 2018, pembangunan blok C, dan fasilitasnya," paparnya.
Disamping pembangunan 264 unit kios ukuran 4 x 4, kios 360 unit untuk ukuran 2 x 1,8 meter, dan meja lapak sebanyak 216 unit, disamping itu, juga dilengkapi bilik laktasi, untuk ibu menyusui dan fasilitas kesehatan, serta tempat ibadah, kantor pasar dan 80 kamar toilet, serta lahan parkir.


Pemerataan ekonomi daerah
Sementara itu, Bupati Blora, Djoko Nugroho dalam pidato sambutannya, menyampaikan bahwa pemerintah mempunyai niat yang baik, yaitu mensejahterakan rakyatnya.
" Pembangunan pasar baru ini, gedene 6 kali lipat dari pasar lama, ini adalah upaya untuk mengembangkan pembangunan wilayah Blora Selatan, seperti pembangunan kawasan jembatan jembar, bisa membuka kawasan ekonomi baru, dan harga tanah di Ngampon Beran, sekarang mencapai Rp. 1,5 juta per meter, dulu ditawarkan Rp. 100 ribu per meter saja tidak laku," paparnya.
Disamping itu pembangunan infrastruktur pendukungnya, yaitu jalan juga akan dibangun. Beberapa kantor juga akan dipindah di kawasan Gabus dan Kaliwangan. Balai Desa Mlangsen, Kantor Balai Penelitian hortikultura , terminal angkot dan rumah potong hewan pun direncanakan bangun baru.
" Dulu pom bensin ijin mendirikan di Blota kota tak tolak, tak suruh mbangun di Gabus, akhirnya sekarang rame, lalu Kantor Kecamatan Blora tak pindah di kawasan ini, ben rame, biar ada pemerataan keramaian, kalau ramai, ekonomi masyarakat juga meningkat, jadi pemerintah itu, punya niat baik, tidak punya niat menyengsarakan rakyatnya," ujar Bupati yang akrab dipanggil Pak Kokok ini.


Gratis retribusi 6 bulan
Terkait dengan perpindahan pedagang, diberikan waktu hingga akhir bulan januari ini. Disamping itu pedagang juga diberikan kelonggaran bebas dari tarikan retribusi pasar.
" Aku ngerti keadaan jenengan yen pindah, mesti durung iso laris, jenenge pasar anyar, karena itu pedagang tidak usah bayar retribusi selama 6 bulan, satu bulan pindah, enam bulan gratis retribusi, mbayare suk agustus, tapi parkire tetep mbayar, diatur ben ora semrawut," ungkapnya.
Selain itu upaya untuk membuat ramai pasar baru itu, juga akan dibangun jalan baru, dan kantor - kantor baru, DKK di Beran, Kantor Kecamatan, Balai Desa Mlangsen, Puskeswan dan Rumah Potong Hewan, dan terminal angkutan. Menutup pidato sambutannya, terkait dengan pasar lama, Bupati mengungkapkan akan dibangun pertokoan kering, dan koplakan juga akan dibangun kembali dengan desain yang lebih bagus dan modern, dan nantinya juga untuk para pedagang/pengusaha kuliner lama.
" Termasuk pecel Ton Pek juga akan dapat tempat, jajal lah kurang pie ne," tandasnya.


Pedagang keluhkan kios
Dalam sesi tanya jawab, Yulaeka, pedagang pakaian yang berasal dari Dukuh Kalisangku, Desa Gempolrejo menyampaikan keluhannya kepada Bupati, pasalnya kiosnya menjadi lebih kecil dibanding saat berdagang di Pasar Induk Blora, dan merasa dipersulit oleh pihak pengelola pasar, untuk mengganti nama hak miliknya untuk anaknya.
" Saya minta keadilannya atas kebijakan yang disampaikan oleh oknum pengelola pasar, yang mengatakan tidak bisa balik nama untuk anak saya, sedangkan sebelah saya bisa dua nama, ada apanya itu, saya sudah berjualan 25 tahun, mohon bisa ditindaklanjuti, jangan dianak tirikan dan di ping pong yang gak jelas dan nggak ada hasilnya," ungkapnya.
Senada dengan penanya pertama, Ibu Siti Romlah, pedagang dari Kelurahan Tambahrejo (Plotot) yang telah 18 tahun berjualan pakaian, juga merasa kiosnya terlalu sempit.
" Kios saya sekarang malah menjadi lebih kecil, sehingga tidak cukup menampung dagangan saya, mohon keadilannya dalam pembagian lokasi tempat jualan saya bersama tiga teman saya yang berasal dari lorong dan deret yang sama, kenapa diperlakukan beda," ucapnya lirih dan penuh keresahan.
Menanggapi hal itu, Bupati Blora, menyampaikan permohonan maaf ya mewakili pemerintah Kabupaten Blora.
" Saya bisa mengerti apa yang jenengan rasakan, tapi mohon bisa dimengerti, permintaan kios ini ternyata sangat banyak, lebih dari seribu pedagang dari tiga pasar, yang penting masuk dululah nanti saya ingin melihat bagaimana, ini masih ada tempat yang belum dibangun, aku mewakili pemerintah njaluk sepura, nggih, aku janji tak bangunke neh yen iseh kurang, sepisan maneh sepurane," tandasnya. (tim/me)












    

Posting Komentar

0 Komentar