Pengasuh Ponpes Assalam Cepu
Siapa Nahkoda Baru NU?
Setiap lima tahun sekali, Nahdlatul Ulama menggelar muktamar. Secara formal, forum ini adalah arena permusyawaratan tertinggi organisasi untuk membahas arah perjuangan, merumuskan rekomendasi keagamaan, dan memilih kepemimpinan baru. Namun seperti yang sudah-sudah, publik selalu lebih tertarik pada satu pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling menentukan: siapa yang akan memimpin?
Di titik itulah politik datang. Bukan dengan jas dan dasi, melainkan dengan sarung dan peci.
Tidak ada yang salah dengan itu. Politik pada hakikatnya adalah seni mengelola kepentingan. Dan organisasi sebesar NU tentu tidak mungkin steril dari kepentingan. Justru yang patut dicermati adalah ketika perdebatan mengenai kepemimpinan perlahan menyita perhatian lebih besar dibanding gagasan-gagasan yang seharusnya menjadi inti muktamar itu sendiri.
Muktamar ke-35 NU di Jombang, disebut memperlihatkan gejala tersebut secara cukup jelas. Perdebatan mengenai mekanisme pemilihan, konfigurasi dukungan, hingga kalkulasi berbagai kelompok menjadi konsumsi utama publik. Nama-nama tokoh beredar lebih cepat, daripada hasil-hasil komisi. Rumor bergerak lebih lincah daripada keputusan sidang. Dan lorong-lorong arena muktamar kadang lebih ramai daripada ruang pembahasan rekomendasi.
Ketika Suksesi Tiba
Fenomena ini sesungguhnya bukan monopoli NU. Hampir semua organisasi besar mengalaminya. Ketika suksesi tiba, perhatian mudah berpindah dari gagasan menuju figur. Dari program menuju posisi. Dari cita-cita menuju kalkulasi.
Yang menarik, NU selalu memiliki kemampuan unik untuk membuat pertarungan itu, tampak hangat tetapi tidak sepenuhnya bermusuhan. Di organisasi lain, perbedaan pilihan bisa melahirkan faksi yang bertahan bertahun-tahun. Di NU, mereka yang berdebat keras pada malam hari, sering kali masih bisa duduk satu meja, menikmati kopi pada pagi berikutnya.
Barangkali karena para kiai memahami bahwa jabatan hanyalah alat, sementara organisasi adalah rumah bersama, yang harus tetap berdiri setelah kompetisi selesai.
Namun romantisme itu, tidak boleh membuat NU kehilangan kemampuan untuk melakukan refleksi. Sebab ada pertanyaan yang layak diajukan setelah hiruk-pikuk muktamar mereda.
Perhatian Publik
Mengapa pembahasan mengenai pendidikan pesantren, kemandirian ekonomi warga, ketimpangan sosial, krisis lingkungan, hingga tantangan teknologi digital, tidak memperoleh perhatian publik, sebesar pembahasan tentang siapa yang duduk di kursi ketua umum?
Mengapa setiap muktamar selalu menghasilkan gelombang spekulasi politik yang begitu besar, sementara keputusan-keputusan strategis, yang menyangkut jutaan warga nahdliyin, sering kali tenggelam di balik berita suksesi?
Jawabannya mungkin sederhana. Politik lebih mudah dijual daripada gagasan. Konflik lebih menarik daripada program. Nama tokoh lebih cepat menjadi judul berita dibanding rumusan komisi.
Tetapi justru karena itu NU perlu berhati-hati. Organisasi ini terlalu besar untuk sekadar sibuk mengurus pergantian elite. Dengan basis warga yang mencapai puluhan juta orang, NU memikul tanggung jawab yang jauh melampaui urusan internal organisasi.
Masyarakat tidak hanya menunggu siapa yang terpilih. Mereka menunggu apa yang akan dikerjakan oleh mereka yang terpilih.
Sepak Terjang Pelobby
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling sering muncul dalam lobi-lobi muktamar. Sejarah juga tidak terlalu peduli siapa yang paling piawai menggalang dukungan menjelang pemilihan.
Sejarah hanya akan mengingat satu hal: apakah setelah seluruh keramaian itu selesai, NU menjadi lebih bermanfaat bagi umat.
Karena sesungguhnya, ukuran keberhasilan sebuah muktamar bukanlah seberapa meriah proses pemilihannya, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat setelah lampu-lampu arena dipadamkan dan para peserta kembali ke daerah masing-masing.
Riuh muktamar selalu menarik untuk disaksikan. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa setelah riuh itu berlalu, yang tersisa bukan sekadar pemenang, melainkan arah yang lebih jelas bagi perjalanan organisasi dan kemaslahatan umat. (Guse/me)










0 Komentar