Prabowo Subianto : " Puluhan Tahun Indonesia Salah Urus !"

Konsolidasi Politik Partai pengusung Prabowo di Blora
Prabowo menyapa Blora
Blora - ME,  Ribuan massa yang hadir dalam Konsolidasi Politik Tim Pemenangan Capres Cawapres Pasangan Prabowo - Sandi, mendadak histeris saat  sirene Patwal Polres Blora meraung - raung memecah keramaian lalu lintas di jalan raya Kota Blora, untuk mengawal iring - iringan mobil rombongan penjemput, yang salah satunya ditumpangi oleh Prabowo Subianto, memasuki halaman Graha Larasati, tempat di mana Konsolidasi Politik akan dilangsungkan. Setelah pendaratan helikopternya di Lapangan Kridosono, Karangjati, sekitar pukul 10.50 WIB, Mantan Danjen Kopassus itu tiba untuk memberikan pidato politik dihadapan para pendukung yang telah hadir sejak pagi itu.

Yel - yel Prabowo Presiden
Melalui sisi timur gedung, Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya itu berjalan, dengan kawalan ketat dari seluruh ajudan dan aparat Satuan Petugas (SATGAS) dari internal Partai Gerindra, hingga masuk dan berjalan menuju panggung kehormatan, yel - yel Prabowo Presiden, Indonesia Menang dan gema takbir dari massa Partai PKS dan PAN tak henti - hentinya diteriakkan, oleh pendukung yang telah dengan sabar menanti kedatangannya. Prabowo menyalami para pendukung dan seluruh Pimpinan DPC Partai pengusungnya, dan memeluk erat dan hangat Letnan Jenderal TNI Purnawirawan. H. Bibit Waluyo, mantan Gubernur Jawa Tengah, dan mantan Pangdam IV Diponegoro, Pangdam Jaya, dan Panglima Kostrad , yang kini menjadi pendukung utamanya, untuk memenangkan suara di Jawa Tengah.

Pidato nan menggelegar
Dengan mengenakan baju lapangan berwarna coklat muda, dipadu dengan celana jeans warna biru gelap dan peci hitam, Prabowo Subianto berdiri gagah di podium kehormatan. Mengawali pidato politiknya, Prabowo mengucapkan puji dan syukur atas segala rahmat dan berkah dari Allah SWT, serta tidak lupa menghaturkan salawat dan salam untuk Baginda Rasul Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya ucapan terima kasih kepada seluruh pendukungnya. Point utama pidato konsolidasi politik diungkapkan kepada pendukungnya adalah kesalahan pengelolaan oleh para elit penguasa di tingkat pusat yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Kesalahan elit penguasa
" Puluhan tahun Indonesia salah dalam pengelolaannya, Indonesia salah urus yang dilakukan oleh para elit penguasa di pemerintah pusat, sehingga menyengsarakan rakyat, dan saya tahu itu, karena saya juga pernah menjadi bagian dari itu, dan itu membuat saya muak, oleh ulah mereka yang menghancurkan bangsa, elit - elit penguasa itu tidak perduli dengan nasib rakyat, mereka tidak perduli kalau Bangsa Indonesia hancur, padahal seharusnya mereka membela kepentingan rakyat, mau tahu bagaimana cara mereka mencuri uang rakyat, dengan proyek, dan ini telah berlangsung selama puluhan tahun, proyek senilai Rp. 100 Milyar, di atas kertas jadi Rp. 300 Milyar, hari pertama itulah mereka nyolong duit rakyat, mau bukti ada di KPK, dan temuan dari BPK yang jumlahnya belasan ribu temuan, yang tidak disentuh dan tidak diurus, harus dicek ini!" ungkapnya.

Buku Paradoks Indonesia
" Seperti yang ada di buku Paradoks Indonesia, yang berisi pandangan strategis ekonomi bangsa, yang intinya adalah pengelolaan sumber daya alam dan kekayaan Bangsa Indonesia, yang tidak tinggal di Indonesia, tetapi dibawa keluar negara, kalau ini dibiarkan terus menerus negara kita bisa kolaps dan mati, dan saya sebagai salah satu unsur Pemimpin Bangsa, ikut bertanggungjawab, dan saya Patriot yang cinta tanah air dan negara ini, saya tidak akan diam!" tandasnya.
"Seharusnya perekonomian dijalankan sesuai dengan amanat para Pemimpin pendahulu kita, Bapak Soekarno, Bung Hatta, Bung Syahrir dan Wachid Hasyim, yang telah membuat dan menyusun UUD 1945, terutama di bidang ekonomi, sesuai dengan Undang - Undang 1945, Pasal 33 ayat 1, yaitu Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan, pasal 2, Cabang - cabang produksi yang menguasai memenuhi hajat hidup rakyat harus dikuasai oleh negara. terakhir Pasal 3 yang berbunyi, Bumi, air dan kekayaan yang ada di dalamnya harus dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan sebesar - besarnya untuk kemakmuran rakyat.!" tegasnya. (Rome)

Posting Komentar

0 Komentar