POTONG SUBSIDI DENGAN MINYAK GORENG



Arie Wicaksono

Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan jumlah 13.644 pulau dan memiliki garis pantai terpanjang kedua didunia setelah kanada sepanjang 99.030 Km, serta luas lautan 1,9 juta Km2 berdasarkan data dari siaran pers Kementrian dan Kelautan Nomor : SP. 47 /DJPRL.0/I/2018, memjadikan Indonesia sebagai potensi penghasil bahan pangan dan eksport sector perikanan meningkat. Namun konsumsi masyarakat untuk hasil perikanan tergolong masih rendah apabila dibandingkan Negara tetanga seperti singapura 80 kilogram per kapita per tahun, Malaysia 70 kilogram per kapita per tahun, Jepang itu hampir 100 kilogram per kapita sedangkan Indonesia hanya 41 kilogram perkapita (diambil dari data deti finance 14 Mei 2017 oleh Ardhan Adi Chandra).  Beberapa nelayan di Jawa tengah menyebutkan bahwa angka tangkapan mereka turun, sehingga berakibat pada meningkatnya harga jual hasil tangkapan mereka. Harga jual yang semakin naik menyebabkan menurunnya daya konsumsi masyarakat, salah satu upaya yang ditawarkan disini upaya kemandirian energi, untuk menunjang daya beli sector perikanan. 

Kemandirian energi adalah pengolalan energy berasas dan bertujuan berdasarkan asas kemanfaatan, efisiensi berkeadilan, peningkatan nilai tambah, keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat, pelestarian fungsi lingkungan hidup, ketahanan nasional, dan keterpaduan dengan mengutamakan kemampuan nasional. Seperti upaya yang dilakukan oleh Bank Sampah Indria Jaya yang berada di kelurahan Kalipancur, kecamatan Ngaliyan, Mereka menerima penjualan minyak goreng bekas atau jelantah dari warga yang umumnya ibu rumah tangga. Satu botol isi 1,5 liter untuk beli dihargai Rp 3.500 sedangkan Bank Sampah menjualnya kembali seharga Rp 4.500- 5.000 dari hasil wawancara yang telah dilakukan ke petugas bank sampah, Dimana keuntungan penjualan minyak jelantaah untuk operasional bank sampah sendiri. Selanjutnya limbah minyak goreng ini dimanfaatkan sebagai bahan baku pembutan Biosolar. Minyak goreng bekas memiliki potensi sebagai bahan baku biosolar karena kandungan trigliserida yang cukup besar 80-95% tergantung sumber bahan baku, trigliserida yang selama ini menjadi biang penyumbatan pembuluh darah dan pencemaran lingkungan apabila dibuang di lingkungan, akan lebih bermanfaat apabila diolah menjadi bahan bakar yang biasa disebut biosolar.

 Beberapa penilitian yang sudah dilakukan menyebutkan hasil pembuatan biosolar dari bahan baku minyak goreng memiliki kualitas yang sama dengan solar dari bahan bakar solar menurut SNI 7182:2015. Biosolar dari minyak goreng bekas tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk pengerak mesin-mesin yang membutuhkan bahan bakar solar disekitar sehingga dapat menurunkan biaya operasional proses dan menurunkan harga jual produk, ketimbang mengandlakan harga solar dipasaran yang fluktuatif. selain menghasilkan biosolar hasil reaksi tersebut menghasilkan gliserin atau gliserol bahan ini merupakan salah satu bahan baku yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan sabun, kosmetik atau bahan tambahan pembuatan obat di industry farmasi, satu kali proses double manfaat diraih.

Hal serupa yang dilakukan bank sampah indria jaya di semarang bisa diterapkan pada kamonitas lainya, dalam hal ini saya membayangkan apabila penerapanya dikampung nelayan tidak hanya local namun  perkampungan nelayan seluruh Indonesia, dimana dilakukan pengeloaan terhadap sampah atau limbah hasil minyak goreng hasil memasak di rumah tangga dan dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biosolar dan hasil dari biosolar digunakan sebagai bahan bakar motor nelayan mencari ikan, sehingga tidak tergantung kepada pengaruh harga solar yang cendurung naik dan ketersediaannya susah didapatkan. Dari kemandirian energy tersebut maka harga jual ikan semakin mudah dikendalikan dan dapat menurunkan harga jual hasil laut, dengan terjangkaunya hasil laut tersebut maka konsumsi masyarakat akan hasil laut bertambah, pasokan gizi akan omega 3 meningkat kecerdasan bangsa meningkat.

 Bayangkan apabila seluruh Indonesia mampu menerapkan hal tesebut, total konsumsi bahan bakar solar pada tahun 2016 adalah sebesar 16,2 juta kiloliter dengan 7,4% atau sekitar 1,2 juta kilo liter meruapakan subsidi dari pemerintah (Jakarta Raya, Sri Mas Sari 2 agustus 2017) . Apabila kita dapat menafaatkan 30 % (4,86 juta kiloliter) sehingga total konsumsi menurun menjadi 11,34 juta kiloliter dan subsidi 839 ribu kilo liter sehingga ada selisih sekitar 400 ribu kiloliter BBM solar subsidi yang dihemat Rp.4.000.000.000.000 empat trilyun rupiah (asumsi harga solar non-subsidi). Dengan jumlah sebanyak tersebut maka keuangan Negara dapat dialihkan kepada pembangunan infrastruktur umum seperti sekolah, rumah sakit yang kemanfataannya untuk masyarakat lebih terasa. Di perkirakan 11-12 tahun kedepan produksi minyak bumi akan habis menurut wakil mentri ESDM, sehingga perlu diupayakan untuk mencari alternatif bahan bakar sejak sekarang, tidak perlu harus menunggu program pemerintah, perubahan tersebut harus dimulai dari pribadi kita masing-masing.



Oleh : Arie Wicaksono
Mahasiswa Magister Energi -Universitas Diponegoro

Posting Komentar

0 Komentar