PRAM, CERITERA DARI BLORA, DAN INDONESIANA

Rumah Masa Kecil Pram
Blora-ME, Rumah kayu nan tua itu kembali sibuk, ramai dikunjungi orang. Dari seluruh belahan Nusantara, anak semua bangsa berkumpul, berbondong - bondong mendata ngi rumah masa kecil Pramudya Ananta Toer yang akrab dipanggil Pram, penulis sastra kelas dunia, yang beberapa kali menjadi nominator Nobel Prize, namun karena suatu hal yang bersifat politis, dia selalu digagalkan untuk menerima penghargaan itu. " Menjadi penulis adalah tugasnya sebagai anak bangsa dan pribadi, jadi Pram tidak pernah perduli, mau dapat atau tidak," kenang Soesilo Toer, adik dari Pram yang kini tinggal di rumah yang beralamat di Jalan Sumbawa, Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora Kota. Tetralogi Pram diakui sebagai karya sastra yang sangat fenomenal. Ceritera Dari Blora salah satunya, yang kini menjadi thema platform Indonesiana, Festival Seni Budaya dan Sastra Ceritera Dari Blora yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, mulai tanggal 12 - 15 September. Diselenggarakan di beberapa lokasi, dengan berbagai kegiatan yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama yaitu mengembangkan potensi seni dan budaya lokal Blora, yang pada masa perang kemerdekaan dulu, Blora memiliki tokoh sastra yang mencuat di dunia. Dunia sastra gempar oleh tulisan - tulisan Pram yang dibuat di dalam teralis besi yang dingin. Di Pulau Buru.


Ceritera Dari Blora
Direktur Program dari Indonesiana, Heru Hikayat menyampaikan dalam pidatonya mewakili Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang tidak bisa hadir karena tugas negara. Bahwa Blora terpilih dalam Platform Indonesiana dengan thema Festival Cerita dari Blora, adalah karena Blora memiliki tokoh sastra kelas Dunia. Karyanya Ceritera Dari Blora, menjadi rujukan bagi sastrawan - sastrawan di seluruh dunia. Karya itu menggambarkan pergolakan negara - negara yang dirundung kemiskinan akibat dari keserakahan kolonialisme dan imperialisme barat. "Ekspedisi - ekspedisi dari negara - negara barat, mulai dari Christopher Columbus, Vasco De Gama, hingga VOC yang masuk ke Indonesia dalam rangka mencari dan menguasai pasar rempah - rempah dunia, dan Pram menulisnya dengan sangat baik, sehingga karyanya dikenal diseluruh dunia," paparnya, saat penutupan platform Indonesiana di Kawasan Alon - Alon Blora, pada Sabtu malam (15/9/2018).


3 Tahun Platform Indonesiana
Bupati Blora, Djoko Nugroho sangat mengapresiasi platform Indonesiana yang digagas Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang memasukkan Kabupaten Blora sebagai salah satu pilihan dari 9 Kabupaten/ Kota dalam program platform Indonesiana. " Saya atas nama masyarakat Kabupaten Blora mengucapkan banyak terima kasih atas ditunjuknya Blora dalam platform Indonesiana, hingga tiga tahun, tahun depan kami akan sungguh membina dan menginventarisir seluruh potensi budaya yang ada, dan masyarakat Blora adalah masyarakat yang mencintai seni dan budaya, dimana gong dipukul disitulah masyarakat akan hadir untuk menyaksikannya," paparnya dalam pidato arahannya dilanjutkan penutupan platform Indonesiana 2018, kemudian menyerahkan wayang kulit, tokoh Gatotkaca kepada Dalang Cilik asli dari Blora, Alif Kriwul, yang juga menyabet sebagai juara Dalang Cilik Nasional, yang akan tampil dalam upacara penutupan platform Indonesiana. Blora wes wayahe kuncoro! (rome)

Posting Komentar

0 Komentar