IKLAN

Iklan Banner

Barongan Blora Pukau Ribuan Pengunjung Ajang Makan - Makan Mangkunegaran

Pentas Seni Barongan dari Singo Sari Budoyo Blora di Makan - Makan Mangkunegaran tahun 2026 berhasil pukau ribuan pengunjung

"Barongan Singo Sari Budoyo Blora, Pukau Ribuan Pengunjung Ajang Pengetan Jumenengan Mangkunegaran Surakarta Hadiningrat"

Bunda Ainia Shalichah Arief Rohman berbincang - bincang dengan Dr. Subagyo Sri Utomo, Pimpinan Sanggar Singo Sari Budoyo

Pentas Barongan Blora
BLORA, ME - Lapangan Mangkunegaran mendadak heboh, ribuan warga Solo Raya yang datang di ajang Makan - Makan Mangkunegaran yang berjalan selama 3 hari berturut - turut itu, penuhi lapangan depan panggung seni budaya, untuk menyaksikan seni budaya khas Blora, yaitu Barongan.

Mewakili Pemerintah Kabupaten Blora, Sanggar Singo Sari Budoyo tampil memukau di hadapan ribuan pengunjung, yang setia duduk menyaksikan 15 Barongan yang dibawa langsung dari Ngawen itu.

Pimpinan Sanggar Singo Sari Budoyo, Dr. Subagyo Sri Utomo, merasa sangat bangga, bisa menampilkan seni budaya asli dari Kabupaten Blora di ajang Makan - Makan Jumenengan Mangkunegaran di Solo ini.

Apresiasi Bunda Ainia
Tak ketinggalan rasa bangga dan takjub dengan penampilan 15 barongan dan tujuh puluhan seniman dari Kecamatan Ngawen disampaikan oleh Ibu Ainia Arief Rohman, yang turut hadir di Solo, mewakili Bupati Blora, Arief Rohman didampingi Kepala Dinas Porabudpar, Iwan Setiyarso dan Kepala Bagian Promkompim Setda Blora, Budiman.

"Sungguh membanggakan barongan Blora yang dipimpin pak Subagyo, Singo Sari Budoyo bisa tampil di Mangkunegaran dengan bagus dan lancar, tadi tampak penontonnya sangat antusias ya," ujar Ketua TP PKK Kabupaten Blora ini.

Budayawan Karanganyar, yang juga asli dari Ngawen, Totok Marjianto turut mengapresiasi tampilnya Barongan Singo Sari Budoyo yang juga berasal dari Kelurahan Ngawen, Kabupaten Blora di ajang Makan - Makan Mangkunegaran tahun 2026.

"Penontonnya sangat antusias, terlihat mereka kagum dengan seniman - seniman kita ya, waktu mau pentas mereka kumpul di satu titik, duduk melihat, memotret dan merekam video, begitu selesai langsung bubar," ujar Pak Totok yang juga bekerja di Museum Radya Pustaka Surakarta ini. (Rome)

Posting Komentar

0 Komentar