Jasa Cuci Keris Tetap Stabil, Di Tengah Pandemi Covid 19

 

Jasa Cuci Keris

BLORA, ME - Jasa cuci keris di Kabupaten Blora, stabil dengan tahun sebelumnya di bulan Suro tahun ini. Yakni hanya memungut biaya Rp.20.000 untuk satu bilah keris atau benda pusaka lainnya.  

Hal itu disampaikan oleh Mulyono (63) salah seorang penjual jasa cuci keris asal Desa Todanan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. 

“Jasanya stabil seperti tahun lalu, Rp. 20.000,- untuk satu buah  keris atau tombak,” kata Mulyono, di Blora, Selasa (25/8/2020). 

Dirinya menyadari, di tengah wabah virus corona, banyak warga yang terdampak, termasuk para pemilik benda peninggalan nenek moyang atau koleksi pribadi. 

“Jadi saya tidak naikkan jasa, tetap seperti tahun lalu,” kata dia. 

Rutin Bulan Suro

Meski demikian, menurut Mulyono, jasa cuci yang dibuka di lantai eks Stasiun Kereta Api Blora tiap Bulan Suro, masih didatangi warga yang memiliki aneka jenis keris atau tombak peninggalan. 

“Masih banyak yang datang, mungkin karena sudah langganan setiap tahun. Setiap hari saya mencuci dan membersihkan 20 buah keris serta benda pusaka lainnya,” terangnya. 

Mulyono juga menyadari, jasa yang dibuka tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebab, kali ini harus patuh menerapkan protokol kesehatan sebagaimana ketentuan pemerintah. 

“Saya tidak keliling. Cukup mangkal di sini saja, pakai masker dan menyediakan hand sanitizer. Bagi para pelanggan biasanya menghubungi saya lewat handphone. Mereka menanyakan buka atau tidak, setelah saya jawab buka, mereka datang membawa keris,” jelasnya. 

Proses cuci keris bisa ditunggu lebih kurang  dua jam, tergantung jenis dan kotoran yang menempel pada keris atau benda pusaka lainnya.   

Ikuti Protokol Kesehatan

Dengan penampilan mengenakan blangkon dan memakai masker, Mulyono menjadi perhatian warga yang melintas. Sesekali, ia menunjukkan kebolehannya mendirikan keris setelahatau sebelum dibersihkan. 

“Sudah beberapa hari ini, saya di sini. Sudah ratusan benda peningggalan yang saya cuci dan bersihkan. Bahkan sebagian milik orang yang sudah menjadi langganan saya. Ya, alhamdulillah, bulan Suro mendatangkan rejeki untuk saya meskipun dalam situasi merebaknya virus corona,” kata Mulyono.

Ia mengaku sudah mulai belajar mencuci keris sejak umur 10 tahun dari almarhum Reso Saji, ayahnya. 

“Sejak umur 10 tahun saya ikut  Bapak keliling, memikul kentongan dan membantu kerja seperti yang diperitahkan oleh almarhum bapak saya. Akhirnya saya tau dan meneruskan profesinya,” jelasnya. 

Untuk mencuci sebilah keris, tampaknya cukup mudah. Bilah keris disikat menggunakan cairan jeruk nipis, sabun colek dan lerak. Setelah dibilas dengan air bersih, selanjutnya bilah keris dijemur hingga kering. Pada tahap akhir, bilah keris direndam dengan larutan khusus untuk memunculkan pamor keris. 

Mulyono juga berharap agar wabah Corona ini segera sirna sehingga kehidupan berjalan seperti sebelumnya.

“Kalau semua warga bersama-sama patuh protokol kesehatan. Insyaallah corona bisa dikendalikan dan kita semua aman,” ungkapnya.  

Lestarikan Benda Pusaka

Sementara itu Andri Prasetyo, warga Kecamatan Banjarejo, mengatakan setiap bulan Suro dirinya selalu mencuci benda pusaka peninggalan oang tuanya.  

“Setiap bulan Suro, benda peninggalan dari orang tua selalu saya bersihkan. Ini ada beberapa benda, ada sejumlah keris dan mata tombak. Benda ini sudah turun temurun,” kata dia. 

Dikatakannya, sejumlah benda peninggalan yang dimiliki beberapa kali ditawar akan dibeli oleh kolektor benda pusaka. 

“Hanya saja tidak kami jual, sebab ini peninggalan. Benda ini kami percaya memiliki aura kedamaian dan menolak energi jahat,” ucapnya. 

Apabila tidak dirawat, kata dia, isi yang ada di dalam benda pusaka tersebut akan pudar  atau hilang sama sekali, dan hanya berfungi sebagai senjata biasa.

“Terlepas dari itu, kami percaya pada kuasa Tuhan. Saya menilai benda peninggalan ini sebagai salah satu karya seni leluhur yang harus dirawat dan dilestarikan,” kata Andri. (Guh/ME)

Posting Komentar

0 Komentar