Ayo Ramaikan Balai Desa!

Para pemuda Karang Taruna Desa siap membangun ekonomi Desanya masing - masing di Blora

"Terbitnya Perbup terkait hari  kerja para Kepala Desa dan Perangkat lainnya, ditanggapi beragam oleh netizen dan pemerhati Pemerintahan Desa, biasa ada yang pro ada juga yang kontra, oleh karena itu harus ada solusi"

Sejarah Pemerintahan Desa
Blora, ME - Desa adalah satu sistem pemerintahan yang terbawah yang telah  ada sejak dulu kala, bahkan jauh sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diproklamirkan kemerdekaannya oleh Pendiri Bangsa ini, Soekarno - Hatta, atas nama Bangsa Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945, yang kita peringati sebagai Hari Kemerdekaan Republik ini.

Desa yang memiliki berbagai macam nama atau sebutan yang berbeda - beda, seperti Kuwu di Jawa Barat dan Banten, Nagari, Gampong dan banyak lagi sebutan yang lainnya, menurut Undang - Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, memiliki beberapa fungsi yaitu :

1. Menyelenggarakan urusan Pemerintahan yang sudah ada yang didasarkan pada hak asal usul desa;

2. Menyelenggarakan urusan Pemerintahan kewenangan Kabupaten/Kota yang pengaturannya diserahkan Kepada Desa, yaitu urusan pemerintahan yang secara langsung dapat membantu meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat;

4. Memiliki tugas pembantuan dari Pemerintah Pusat, Propinsi dan  Kabupaten atau Kota; dan

5. Menjalankan urusan pemerintahan lain yang diserahkan kepada desa.

Pemerintahan Tersibuk

Jadi kalau melihat fungsinya, Pemerintah tingkat Desa ini cukup sibuk, bahkan bisa jadi sangat sibuk, jikalau Kepala Desanya tergolong dekat dengan warga dan selalu memberikan pelayanan yang prima, meskipun ada juga yang Kadesnya (Kepala Desa) yang cuek, bahkan jarang masuk kantor, karena kesibukannya di luar, entah urusan kedinasannya sebagai Kades atau urusan bisnis pribadinya.

Bisa dikatakan Pemerintahan Desa adalah pemerintahan yang paling dekat dengan rakyatnya, karena setiap hari, entah di Kantornya atau di rumahnya sering didatangi warga untuk berbagai keperluan, pendek kata Kepala Desa hampir melayani segalanya untuk warga, mulai dari warga punya hajat, warga melahirkan, anak balita, menikah, sakit, bahkan hingga meninggal dunia, selalu berkoordinasi dengan Pemerintahan Desa, sehingga wajar kadang sulit ditemui di kantornya.

Sehingga banyak keluhan warga yang memprotes sulitnya menemui Kades, bila ada keperluan di Desa. Oleh karena itu, disikapi oleh Bupati Blora, Arief Rohman untuk mengeluarkan Peraturan Bupati terkait hari kerja Kepala Desa dan Perangkatnya, selama 5 hari kerja, atau Senin sampai Jumat saja. Dengan tujuan untuk meningkatkan kedisiplinan aturan hari kerja di Desa, meskipun hal itu masih ditanggapi beragam oleh sebagian orang.

Meramaikan Balai Desa

Namun yang pasti, semua Desa memiliki kecenderungan yang sama, yaitu selalu sepi dan seakan tidak bernyawa, jika tidak ada kegiatan di Balai Desa tersebut. Kalaupun ada Kades dan Perangkatnya, semua terasa sepi dan hambar, karena semua ada di dalam Kantor dan Balai Desa, dan bagitu masuk jam 12 siang, Kantor Desa sudah tutup dan Balai Desa dipenuhi anak - anak yang ngenet dari jaringan WiFi gratis Desa.

Berkaca dengan hal itu, salah seorang pengamat ekonomi dan pemerintahan Desa, merasa tergugah untuk menghidupkan ritme kehidupan Balai Desa yang monoton tersebut, harus ada upaya meramaikan Balai Desa, dengan menggelar kegiatan ekonomi dan budaya kearifan lokal yang menarik yang dipusatkan di Balai Desa.

"Jadi Balai Desa bisa lebih hidup, siang maupun malam, dengan kegiatan ekonomi dan gelar seni budaya lokal, Balai Dess harus menjadi pusat kegiatan masyarakat, biar tidak sepi, Balai Desa dibangun semenarik dan seunik mungkin, biar warga betah ke Balai Desa" ungkapnya dengan penuh semangat dan gairah membangun.

Satu gagasan yang menarik, dan perlu untuk ditindaklanjuti oleh Pemegang Kekuasaan tertinggi di Desa, bersama Perangkatnya, untuk lebih berinovasi dan kreatif, meramaikan Balai Desanya masing - masing, dengan membuat terobosan tersebut, tetapi jangan bersifat hedonis, misalnya membuat karaoke room, atau ajang perbuatan negatif lainnya.

Buatlah shelter untuk warung angkringan, sebagai teman berdiskusi aktif dan positif, buatlah tempat untuk para pelaku ekonomi kreatif, dan gelar seni budaya daerah lokal secara bergiliran, mungkin itu bisa menjadi kiat - kiat untuk meramaikan Balai Desa secara positif. Jika Balai Desanya aktif, maka warga akan senang datang ke Balai Desanya. Mari kita berubah menuju lebih baik dan baik lagi. (Rome)

Posting Komentar

0 Komentar