Ika Bangkit Meilani, Balada Petugas Sampah Blora


"Nasib para pemungut sampah terkadang luput dari perhatian, selain kemiskinan, bahaya terjangkit penyakit dari sampah yang dipungutnya, patut diselesaikan oleh Pemerintah dengan menyediakan APD dan pemeriksaan kesehatan gratis secara  periodik namun rutin."

Nasib Pemungut Sampah

Blora, ME - Gerobak dorong menjadi sarana bagi Ika Bangkit Meilani (37) untuk melakukan aktivitas memungut sampah di wilayah RT 5 /RW III Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora. 

Virus corona seakan tak dipedulikan demi  tugas kebersihan sampah yang diamanahkan oleh pihak RT di Kelurahan setempat. Setiap hari dilakukannya, lebih dari sepuluh tahun. 

“Saya ini dulu ikut ibu menjadi petugas kebersihan sampah di lingkungan sini, sekarang saya ditugasi sendiri oleh RT, tapi dibantu dan diawasi sama bapak,” kata Ika, di Blora, Sabtu (3/10/2020).

Nafkahi Dua Anak   

Ika juga mengaku, aktivitasnya itu dilakukan dengan ikhlas sejak pisah dari suaminya. Karena dia harus berjuang membiayai kedua anaknya yang masih kecil. Bahkan, kata dia, mantan suaminya, meninggal dunia dua bulan lalu. 

“Saya harus kerja keras, disiplin dan patuh protokol kesehatan karena situasinya masih Covid-19,” ucapnya. 

Untuk upah jasa, kata dia, diterima setiap tanggal 9 tiap bulan sebanyak Rp. 900 ribu dari pihak RT setempat. 

Dirinya mengungkapkan, perhatian dari warga setempat dan Pemerintah Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora Kota seperti bantuan makanan dan pakaian kerap  diterimanya.

“Sering ada bantuan, seperti makanan dan pakaian,” kata dia. 

Kesehatan Terganggu

Hanya saja, beberapa bulan terakhir, kata dia, kesehatannya mulai terganggu. Tekanan darah rendah, sehingga sering pusing dan pingsan. 

“Mungkin terlalu banyak fikiran. Beberapa kali saya pingsan ketika sedang mengusung sampah. Sudah disarankan istirahat, tapi saya harus menjalankan amanah, supaya sampah tetap terkendali,” kata dia.   

Yang mengharukan, anak keduanya, hampir setiap hari ikut ketika dirinya beraktivitas mengambil sampah hingga dikumpulkan di kontener. Terkadang, anak keduanya yang berusia lebih kurang lima tahun, naik ke dalam gerobak dorong yang ditarik Ika bercampur dengan aneka jenis sampah yang dikumpulkan.

“Anak kedua saya ini laki-laki, sering ikut saya, kadang naik ke dalam gerobak,” ungkapnya.

30 Tahun Mengabdi

Sementara itu, Krismanu (64), mengatakan, pada awalnya  Ika ikut membantu, hingga akhirnya mendapat tugas dari RT setempat. 

“Saya ini sudah lebih 30 tahun menjadi petugas sampah, kemudian ada generasinya. Tapi saya juga masih membantu,” kata dia. 

Krismanu berharap perhatian tentang kesehatan bagi petugas kebersihan sampah terus dilakukan oleh pemerintah, karena aktivitasnya sangat rentan tertular penyakit. 

Apalagi, hingga saat ini corona masih belum sirna. Sementara sampah juga menjadi perhatian serius untuk terus dikendalikan supaya tetap aman dan nyaman. 

“Saya berharap, kesehatan petugas kebersihan terus mendapat pehatian sehingga bisa sehat terus dan sampah tertangani,” ucapnya. (*).

Posting Komentar

0 Komentar